BANTEN – Banten sejak awal 2000-an, dikenal dengan dominasi politik dinasti. Nama Dimyati Natakusumah dari Pandeglang dan Ratu Atut Chosiyah dari Serang menjadi simbolnya. Keduanya membangun kekuasaan melalui jaringan keluarga, pengaruh sosial, dan dukungan partai politik. Setelah Dimyati menjabat Bupati Pandeglang dua periode (2000-2009), istrinya, Irna Narulita, melanjutkan kepemimpinan hingga 2025. Anak-anak dan adik Dimyati juga terjun ke dunia politik. Di sisi lain, Dinasti Rau, berakar dari Chasan Sochib (ayah Ratu Atut), mempertahankan pengaruhnya melalui Airin Rachmi Diany, mantan Wali Kota Tangsel dua periode, hingga Pilkada 2024 (R. D. Pradita et al. 2025).
Fenomena ini bukan sekadar soal nama keluarga, melainkan sirkulasi elite yang beku. Tokoh baru hampir selalu terhubung secara darah atau pernikahan dengan elite sebelumnya. Jalur politik menjadi “jalan tol” bagi keluarga elite, sementara masyarakat umum hanya bisa menempuh “jalan setapak” (M. A. Sukri, 2020). Meskipun masyarakat Banten menyadari dampak negatif politik dinasti terhadap demokrasi, minimnya partisipasi politik dan figur alternatif membuat dinasti tetap berkuasa.
Pilkada Banten 2024 menandai titik balik. Pasangan Andra Soni dan Dimyati Natakusumah mengalahkan pasangan Airin-Ade Sumardi dari kubu Rau, meraih lebih dari 3 juta suara dan unggul di enam dari delapan kabupaten/kota (M. D. Nurfaisal et al. 2025). Kemenangan ini bukan hanya soal strategi kampanye, tetapi juga pergeseran preferensi pemilih yang lebih memperhatikan integritas dan rekam jejak. Meskipun kedua dinasti memiliki catatan hukum, publik tampak lebih sensitif terhadap isu korupsi. Pertanyaannya: akankah kemenangan ini membawa perubahan substansial, atau hanya pergantian wajah dengan pola lama yang tetap bertahan?
Dari segi pembangunan, IPM Banten pada 2024 mencapai 76,35, masuk tujuh besar nasional. Namun, angka ini menutupi ketimpangan yang signifikan. Tangsel memiliki IPM tertinggi (84,16), sementara Lebak tertinggal jauh (68,33). Kemajuan terkonsentrasi di wilayah utara, sementara wilayah selatan masih bergelut dengan kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan akses kesehatan yang buruk (M. T. Pratama et al. 2022). Pemerataan pembangunan, meskipun tertuang dalam RTRW 2023-2043, masih membutuhkan implementasi yang kuat.
Baca Juga:
IKN Lahir: STIA Banten Naik Kelas, Siap Cetak Generasi Unggul dan Mandiri!
Kekuasaan di Banten berkarakteristik tradisional dan patronase. Figur kuat seperti Ratu Atut menerapkan politik patron-klien. Lemahnya kaderisasi partai membuat regenerasi stagnan, partai lebih memilih calon yang “pasti menang” dari keluarga elite (I. H. Harahap, 2017). Pengaruh dinasti bahkan merambah ke sektor bisnis, ormas, dan organisasi keagamaan, membentuk “Octopus Dynasty” yang mengendalikan berbagai sektor (A. Sutisna, 2017). Akibatnya, meritokrasi tergerus dan demokrasi terganggu (S. A. Salsabil, 2022).
Andra Soni, pemimpin baru Banten, menunjukkan gaya populis dengan menolak fasilitas mewah dan rajin turun ke lapangan. Meskipun disambut positif, pengamat mengingatkan bahwa populisme bisa bersifat simbolik tanpa reformasi struktural. Kebijakan seperti penghapusan pajak kendaraan bermotor yang menunggak, misalnya, perlu diimbangi dengan sistem insentif dan pengawasan yang efektif.
Ironisnya, di tengah pertumbuhan IPM, Banten menjadi provinsi paling tidak bahagia di Indonesia pada 2021 (BPS), dengan indeks kebahagiaan 68,08. Ketimpangan sosial dan ekonomi, tingginya pengangguran (7,02 persen pada Februari 2024), rendahnya kepuasan hidup, dan minimnya emosi positif menjadi penyebabnya. Upaya penjabat gubernur sebelumnya, meskipun simpatik, belum menyentuh akar masalah.
Solusi struktural—perbaikan pendidikan, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan pembangunan—sangat krusial. Banten memiliki potensi besar, tetapi selama ketimpangan dibiarkan, dinasti akan tetap dominan, dan partisipasi warga tetap rendah.
Baca Juga:
Timnas Ogah Numpang! PSSI Tolak Hotel Gratisan dari Arab Saudi
Pertanyaan utamanya: mampukah kepemimpinan baru mengubah pola lama, atau Banten akan tetap “maju di angka, tetapi tertinggal di rasa”? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
















