JAKARTA – Kungkang modern, hewan herbivora kecil yang hidup di kanopi hutan hujan tropis dan dikenal dengan sifatnya yang malas, memiliki sejarah evolusi yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Selama puluhan juta tahun, Amerika Selatan menjadi rumah bagi berbagai jenis kungkang, termasuk spesies raksasa yang hidup di darat dan beratnya mencapai hampir 5 ton. Perubahan ukuran tubuh kungkang yang dramatis, yang diteliti oleh Alberto Boscaini dari University of Buenos Aires dan timnya, menunjukkan hubungan erat dengan perubahan iklim dan habitat, serta dampak signifikan dari kehadiran manusia.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Jurnal Science pada 22 Mei 2025 menganalisis data fisik, DNA, dan protein dari 67 genera kungkang, baik yang masih hidup maupun yang telah punah. Dengan membangun pohon keluarga evolusioner yang mencakup periode 35 juta tahun, para peneliti menggabungkan informasi tentang habitat, pola makan, dan gaya hidup setiap spesies untuk melacak tren evolusi ukuran tubuh. Mereka memperkirakan massa tubuh dari 49 kelompok kungkang, baik modern maupun purba.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim sangat memengaruhi ukuran tubuh kungkang. Beberapa genera kungkang beradaptasi dengan kehidupan di pohon, yang menyebabkan ukuran tubuh mereka menyusut—seperti kungkang modern yang kita kenal sekarang. Namun, menariknya, tiga kelompok kungkang secara terpisah berevolusi menjadi raksasa seukuran gajah. Evolusi gigantisme ini tampaknya terjadi dalam beberapa juta tahun terakhir, seiring dengan pendinginan planet dan pembentukan Pegunungan Andes yang membuat iklim Amerika Selatan menjadi lebih kering.
Baca Juga:
Bupati Serang Beri Penghargaan ASN Berprestasi dan Inovatif
“Gigantisme lebih erat kaitannya dengan iklim yang dingin dan kering,” kata Daniel Casali, peneliti sistematika mamalia dari University of São Paulo, Brasil, yang merupakan anggota tim peneliti.
Ironisnya, ukuran tubuh raksasa ini mungkin menjadi faktor utama dalam kepunahan mereka. Banyak spesies kungkang punah dalam dua periode: sekitar 12.000 tahun lalu dan sekitar 6.000 tahun lalu. Periode ini bertepatan dengan penyebaran Homo sapiens ke Amerika dan Karibia, menurut Boscaini, yang menunjuk pada lokasi habitat kungkang raksasa. Ia berpendapat bahwa kungkang darat yang besar lebih mudah diburu manusia dibandingkan dengan kungkang pohon yang lebih lincah.
“Spesies kungkang berkembang selama hampir seluruh sejarahnya,” kata Casali. “Temuan ini menunjukkan betapa cepatnya kelompok yang sangat sukses dapat menjadi rentan.”
Baca Juga:
Kapolres Serang Pastikan Relokasi Warga Barengkok Berjalan Lancar
Thaís Rabito Pansani, seorang paleontolog dari University of New Mexico (yang tidak terlibat dalam studi ini), menyatakan bahwa meskipun ada perdebatan mengenai peran manusia dalam kepunahan megafauna purba, penelitian ini memberikan bukti kuat yang mendukung peran manusia dalam kepunahan kungkang raksasa. Studi ini menyoroti kerentanan bahkan spesies yang sangat sukses terhadap perubahan lingkungan dan tekanan dari spesies invasif, seperti manusia.
















