SERANG – Kabar gembira akhirnya datang bagi masyarakat Desa Wargasara, Pulau Tunda, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang. Setelah puluhan tahun hidup dengan keterbatasan pasokan listrik, sekitar 300 rumah di Pulau Tunda dalam waktu dekat akan segera menikmati sambungan listrik selama 24 jam penuh. Harapan yang selama ini dinantikan warga kepulauan tersebut perlahan menjadi kenyataan melalui kerja sama strategis antara Pemerintah Kabupaten Serang dan pihak swasta.
Kepastian tersebut terungkap dalam acara penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang dengan PT Metta Energi Sejahtera yang digelar di Pendopo Bupati Serang pada Jumat, 23 Januari 2026. Penandatanganan ini dilakukan langsung oleh Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan akses layanan dasar yang merata dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat, termasuk yang berada di wilayah kepulauan.
Kesepakatan bersama tersebut mencakup percepatan pengadaan dan penyediaan energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Mandiri di Desa Wargasara, Pulau Tunda. Proyek PLTS ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat secara berkelanjutan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Adapun cakupan proyek meliputi pemasangan 14 unit mono solar panel, penyediaan baterai lithium berkapasitas besar, pembangunan ruang distribusi daya, serta fasilitas pendukung lainnya yang menunjang operasional sistem kelistrikan secara optimal.
Selama ini, Pulau Tunda yang berjarak lebih dari 2,5 jam perjalanan laut dari daratan utama Kabupaten Serang hanya menikmati listrik selama 6 hingga 12 jam per hari. Kondisi tersebut telah berlangsung puluhan tahun dan berdampak langsung terhadap aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pelayanan kesehatan masyarakat setempat. Keterbatasan listrik membuat warga harus menyesuaikan hampir seluruh aktivitasnya dengan jadwal menyala dan padamnya aliran listrik.
Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, yang akrab disapa Ratu Zakiyah, mengungkapkan rasa syukur atas terealisasinya penandatanganan kesepakatan bersama tersebut. Ia menyebut kerja sama ini sebagai langkah penting dan strategis dalam upaya menghadirkan solusi energi berkelanjutan bagi wilayah terpencil dan kepulauan di Kabupaten Serang. Menurutnya, Kabupaten Serang juga patut berbangga karena menjadi salah satu daerah percontohan atau pilot project dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) dalam pemanfaatan PLTS mandiri.
“Alhamdulillah, hari ini Kabupaten Serang dipercaya menjadi pilot project dari Kemendes PDT sebagai solusi penyediaan energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Ini adalah langkah besar untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat Pulau Tunda yang selama bertahun-tahun hanya menikmati listrik dalam waktu terbatas,” ujar Ratu Zakiyah kepada wartawan.
Dalam kesempatan tersebut, Ratu Zakiyah juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kemendes PDT, khususnya kepada Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan, Nugroho Setijo Negoro, atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan. Ia menegaskan bahwa kerja sama ini bukan hanya menghadirkan listrik, tetapi juga membuka peluang peningkatan kualitas hidup masyarakat Pulau Tunda secara menyeluruh.
Dengan tersedianya listrik selama 24 jam, Ratu Zakiyah berharap produktivitas masyarakat dapat meningkat, terutama dalam menggerakkan roda perekonomian lokal. Menurutnya, kehadiran listrik yang memadai akan mendorong berkembangnya usaha kecil, meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, serta memperbaiki layanan kesehatan di wilayah kepulauan.
Baca Juga:
Pujian Presiden untuk Komandan Upacara Hari Bhayangkara
“Ini adalah tanggung jawab kami sebagai pemerintah daerah untuk memastikan seluruh warga Kabupaten Serang mendapatkan akses layanan dasar yang adil dan merata,” tegasnya.
Selain kerja sama penyediaan PLTS, Ratu Zakiyah juga mengungkapkan bahwa PT Metta Group akan memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat Pulau Tunda, khususnya di sektor perikanan. Perusahaan tersebut berencana menyediakan fasilitas cold storage atau penyimpanan ikan dingin yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Keberadaan cold storage diharapkan dapat menjaga kualitas hasil tangkapan ikan dan meningkatkan nilai jual, sehingga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan nelayan.
Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Kemendes PDT, Nugroho Setijo Negoro, menjelaskan bahwa keterlibatan pihak swasta dalam proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat penyelenggaraan pelayanan publik. Menurutnya, kolaborasi dengan sektor swasta memungkinkan proses pembangunan berjalan lebih cepat dan efisien, tanpa menghilangkan peran serta masyarakat desa.
Ia menegaskan bahwa kerja sama ini bukan merupakan hibah, melainkan skema investasi yang melibatkan PT Metta Group dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan model tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam pengelolaan dan keberlanjutan proyek.
“Masyarakat juga diminta bertanggung jawab terhadap keberlangsungan proyek dan pemeliharaan fasilitas yang memang dibutuhkan oleh mereka sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, CEO PT Aurora Power Indonesia (Metta Group), Katamsi Ginanom, menyampaikan bahwa keterlibatan perusahaannya dalam proyek PLTS di Pulau Tunda dilandasi oleh keyakinan untuk membangun Indonesia dari desa. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan bisnis, melainkan sebagai bentuk kontribusi nyata bagi bangsa.
Katamsi mengungkapkan bahwa setelah puluhan tahun berkiprah di luar negeri, dirinya merasa terpanggil untuk berkontribusi langsung bagi pembangunan di tanah air. Menurutnya, membuka akses terhadap infrastruktur dasar seperti listrik dan modal merupakan kunci utama untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat desa, khususnya di wilayah kepulauan.
Baca Juga:
Kevin Marfeliansyah Ditemukan 2 Km dari Lokasi Tenggelam di Sungai Ciujung
“Sering kali kemiskinan bukan disebabkan oleh sistem ekonomi tertentu, melainkan karena masyarakat tidak memiliki akses terhadap modal dan infrastruktur dasar. Melalui kerja sama ini, kami berharap masyarakat Pulau Tunda bisa lebih mandiri, produktif, dan sejahtera,” pungkasnya.












