TANGERANG SELATAN – Hujan deras yang mengguyur Kota Tangerang Selatan pada Kamis siang tak menyurutkan semangat puluhan warga yang tergabung dalam Forum Peduli Serpong untuk turun ke jalan. Mereka berkumpul sejak awal siang di depan gedung DPRD Tangerang Selatan dengan sorak-sorai penuh semangat dan berbagai atribut aksi. Meski basah oleh air hujan, mereka tetap tegak, membawa poster tuntutan dan melakukan aksi yang tak biasa, yakni menyebar sampah di depan gerbang kantor wakil rakyat tersebut serta membawa sebuah keranda sebagai simbol perlawanan.
Keranda yang dibawa para pengunjuk rasa bukan sekadar properti biasa. Dibuat dari kayu berwarna cokelat tua, keranda itu diberi tulisan besar “Serpong Bebas Bau” yang langsung menyita perhatian masyarakat sekitar. Keranda tersebut sengaja dihadirkan sebagai simbol kondisi lingkungan yang dianggap sudah “mati” akibat buruknya pengelolaan sampah. Warga menilai persoalan ini telah mencapai titik kritis karena tidak hanya mengganggu pemandangan, tetapi juga mengancam kesehatan dan kualitas hidup masyarakat.
Para pengunjuk rasa membawa sampah plastik, kertas, dan limbah rumah tangga yang dikumpulkan dari sejumlah titik penumpukan sampah di wilayah Serpong dan sekitarnya. Sampah tersebut kemudian ditebar di depan gerbang DPRD Tangsel sebagai bentuk protes terbuka. Sebagian lainnya ditempelkan di pagar bersama poster-poster berisi tuntutan keras agar pemerintah daerah dan DPRD tidak lagi menutup mata terhadap krisis sampah yang semakin parah.
Dalam beberapa hari terakhir, warga Tangerang Selatan memang dibuat resah oleh tumpukan sampah yang menggunung di berbagai ruas jalan utama dan kawasan permukiman. Bau menyengat tercium hampir sepanjang hari, bahkan lalat dan serangga mulai bermunculan. Kondisi ini diperparah dengan penutupan Tempat Pembuangan Akhir Cipeucang yang selama ini menjadi andalan dalam pengelolaan sampah kota. Akibatnya, sampah tidak terangkut secara optimal dan menumpuk di berbagai lokasi sementara yang tidak memadai.
Warga menilai penanganan yang dilakukan pemerintah kota sejauh ini masih bersifat darurat dan belum menyentuh akar persoalan. Meski armada pengangkut sampah telah ditambah dan beberapa titik mulai dibersihkan, namun volume sampah yang terus diproduksi setiap hari membuat permasalahan tak kunjung selesai. Sampah yang diangkut hari ini, kembali menumpuk keesokan harinya.
Ketua Forum Peduli Serpong, Abdul Manaf, dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk keprihatinan sekaligus peringatan keras kepada para pemangku kebijakan. Ia menegaskan bahwa warga sudah terlalu lama bersabar dan tidak ingin hanya mendengar janji tanpa realisasi nyata. Menurutnya, masalah sampah bukan sekadar urusan teknis, tetapi menyangkut hak dasar warga untuk hidup di lingkungan yang bersih dan sehat.
Baca Juga:
PWI Kota Serang Hanya Akui Rian Nopandra Sebagai Ketua PWI Banten
Ia juga menyoroti dampak kesehatan yang mulai dirasakan warga, mulai dari gangguan pernapasan hingga meningkatnya risiko penyakit akibat lingkungan yang kotor. Abdul menekankan bahwa jika tidak segera ditangani secara serius, persoalan ini dapat berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Aksi tersebut sempat menarik perhatian pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Arus lalu lintas di sekitar gedung DPRD Tangsel melambat karena banyak pengendara berhenti untuk melihat jalannya demonstrasi. Sejumlah warga yang melintas bahkan ikut menyampaikan dukungan secara langsung dan mengeluhkan hal serupa yang mereka alami di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Pihak DPRD Tangerang Selatan akhirnya menemui massa aksi untuk mendengarkan tuntutan yang disampaikan. Perwakilan DPRD menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat akibat tumpukan sampah yang belum tertangani secara maksimal. DPRD berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut kepada pemerintah kota serta mendorong percepatan solusi jangka pendek maupun jangka panjang.
Meski demikian, DPRD juga mengakui bahwa penanganan persoalan sampah menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan lokasi pembuangan hingga persoalan teknis dan regulasi. Namun demikian, DPRD menyatakan komitmennya untuk mengawal penanganan masalah ini agar tidak berlarut-larut dan terus merugikan masyarakat.
Menjelang sore hari, hujan masih turun namun aksi berangsur mereda. Dialog antara perwakilan warga dan DPRD berlangsung lebih kondusif meski tuntutan belum sepenuhnya terjawab. Warga berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai formalitas belaka, melainkan menjadi awal dari perubahan nyata dalam sistem pengelolaan sampah di Tangerang Selatan.
Baca Juga:
Galian Tanah Ilegal di Lebak Diduga Pakai BBM Subsidi
Sebelum membubarkan diri, warga menegaskan bahwa mereka akan terus mengawal janji yang disampaikan. Mereka berharap pemerintah daerah segera menghadirkan solusi yang berkelanjutan, mulai dari pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga, optimalisasi TPS3R, hingga pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern. Aksi ini menjadi penegasan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa lagi ditunda, karena menyangkut masa depan kota dan kesehatan generasi mendatang.












