JAKARTA – Upaya penanganan bencana di Aceh Tamiang terus berlangsung dengan intensitas tinggi, terutama setelah wilayah tersebut mengalami dampak berat akibat bencana alam yang terjadi beberapa hari terakhir. Dalam situasi darurat seperti ini, kebutuhan warga terhadap logistik dasar dan perlengkapan penunjang keselamatan meningkat drastis, sementara akses darat di sejumlah titik dilaporkan terhambat karena kerusakan infrastruktur. Menyadari urgensi tersebut, Polri melakukan langkah cepat dengan mengerahkan satu unit helikopter AW169 untuk mendistribusikan bantuan kemanusiaan secara langsung ke titik-titik yang membutuhkan. Operasi udara ini menjadi salah satu solusi efektif untuk memastikan bantuan tiba tepat waktu di wilayah terdampak.
Pada Jumat, 5 Desember 2025, helikopter AW169 dengan nomor registrasi P-3303 diterbangkan dalam sebuah misi khusus dukungan kemanusiaan. Total 348 kilogram logistik penting diangkut melalui jalur udara, mencakup berbagai kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan oleh warga yang terdampak bencana. Rute penerbangan dimulai dari Polda Aceh, kemudian menuju Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), dilanjutkan ke Aceh Tamiang, sebelum kembali melalui Bandara Kualanamu (KNO) dan kembali lagi ke SIM. Operasi ini merupakan bagian dari tugas Bantuan Kendali Operasi (BKO) Polda Kalimantan Tengah yang sedang melakukan backup terhadap Polda Aceh dalam upaya penanganan darurat.
Lokasi penurunan logistik dipusatkan di Islamic Center, Kabupaten Aceh Tamiang, yang menjadi salah satu titik koordinasi utama penyaluran bantuan. Kawasan ini dipilih karena aksesnya yang relatif lebih aman serta menjadi tempat berkumpulnya warga yang membutuhkan bantuan cepat. Setibanya helikopter, bantuan segera diserahkan kepada petugas di lapangan untuk kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan prioritas.
Logistik yang dibawa dalam penerbangan tersebut mencakup beragam kebutuhan. Lima koli alat komunikasi (Alkom) dengan berat total 135 kilogram menjadi salah satu bagian penting dari pengiriman. Peralatan ini sangat dibutuhkan untuk memperlancar komunikasi antarpetugas di lapangan, terutama dalam situasi di mana jaringan komunikasi umum kerap terganggu akibat bencana. Selain itu, air mineral dalam tiga galon seberat 60 kilogram turut diangkut untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga yang masih kesulitan mendapatkannya.
Tak hanya itu, dua koli mesin air dengan berat 12 kilogram juga dikirimkan, mengingat keberadaan alat ini dapat membantu menyediakan pasokan air bersih di titik-titik tertentu. Satu koli inventaris Dansat seberat 17 kilogram dan empat koli obat-obatan yang totalnya mencapai 51 kilogram menjadi suplai vital bagi tim kesehatan dan posko medis sementara. Obat-obatan tersebut diperlukan untuk menangani berbagai keluhan kesehatan warga, baik akibat bencana maupun kondisi medis dasar lainnya.
Logistik tambahan seperti rak galon seberat 4 kilogram, satu koli komputer beserta berkas SDM seberat 15 kilogram, serta sembilan koli biskuit dengan total 54 kilogram juga dibawa dalam penerbangan tersebut. Biskuit menjadi salah satu makanan praktis yang dapat didistribusikan dengan cepat, terutama kepada anak-anak dan warga yang membutuhkan asupan energi segera. Sementara itu, komputer dan berkas yang diangkut berkaitan dengan kebutuhan operasional tim yang bertugas di lapangan.
Baca Juga:
Tren Berbahaya: Tramadol dan Eximer Ancam Masa Depan Anak Muda Jakarta
Misi penerbangan dipimpin langsung oleh AKP Sya’ban sebagai pilot utama, dengan dukungan kru berpengalaman yaitu Iptu Rexy Subroto, Aipda Rudi Nurmaludin, dan Aipda Rian Prabowo. Selain kru helikopter, tiga personel turut serta sebagai penumpang (PAX), masing-masing berasal dari Divisi Humas, Bagian Kesehatan Brimob, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Polda. Kehadiran mereka bertujuan untuk memastikan koordinasi berjalan lancar serta melakukan dokumentasi dan pemantauan kebutuhan lanjutan di lapangan.
Penerbangan dimulai ketika helikopter menyalakan mesin (Start Engine) pada pukul 08.20 WIB dan kemudian lepas landas (Take Off) sepuluh menit kemudian, tepat pukul 08.30 WIB, dari Bandara Sultan Iskandar Muda. Cuaca pagi itu dilaporkan cukup kondusif untuk penerbangan, meski tetap dilakukan pemantauan ketat mengingat kondisi atmosfer di sekitar wilayah bencana kerap berubah cepat.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa Polri berkomitmen penuh dalam memastikan penyaluran bantuan dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi. Ia menjelaskan bahwa pengiriman logistik melalui jalur udara menjadi salah satu strategi penting dalam kondisi darurat seperti ini karena mampu menembus wilayah yang tidak dapat diakses akibat kerusakan jalan atau kondisi medan yang sulit.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Polri hadir dengan segala sumber daya yang dimiliki untuk membantu masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa misi ini bukan hanya soal mengirimkan logistik, melainkan juga bentuk kehadiran negara dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan warganya. Ia menambahkan bahwa pihaknya akan terus memonitor kondisi di lapangan dan siap melakukan penguatan apabila dibutuhkan.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa Polri membuka ruang koordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, TNI, maupun lembaga kemanusiaan lainnya. Hal ini diperlukan agar distribusi bantuan berjalan lebih cepat dan tertata serta mampu menjangkau seluruh wilayah yang terdampak. Menurutnya, pemantauan lebih lanjut akan dilakukan secara berkala untuk menilai apakah diperlukan bantuan tambahan, baik berupa penambahan personel maupun logistik.
Baca Juga:
Kampung Donomulyo Rayakan HUT ke-58
Misi kemanusiaan ini tidak hanya memberikan bantuan fisik bagi warga Aceh Tamiang, tetapi juga menjadi dorongan moral bagi masyarakat yang sedang berjuang melalui masa-masa sulit. Kehadiran helikopter yang membawa pasokan kebutuhan penting menjadi simbol bahwa mereka tidak sendiri dan bahwa pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan mereka seoptimal mungkin. Dengan adanya dukungan ini, diharapkan proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan masyarakat bisa kembali menata kehidupan mereka pascabencana.















