• Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Sabtu, Maret 21, 2026
MatasNews.id
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi
No Result
View All Result
MatasNews.id
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • International
  • Nasional
  • Daerah
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Opini
  • Uncategorized
  • Adventorial
  • Redaksi

Mengapa Jalan Indonesia Cepat Hancur? Ini Penjelasan Ahli Teknik Sipil

Yustinus Agus by Yustinus Agus
04/12/2025
0
Mengapa Jalan Indonesia Cepat Hancur? Ini Penjelasan Ahli Teknik Sipil
0
SHARES
2
VIEWS
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke WhatsApp

JAKARTA – Di tengah geliat pembangunan infrastruktur yang terus bergulir, kenyataan pahit tetap menghantui banyak ruas jalan di Indonesia: tidak jarang perbaikan dilakukan, namun tak lama kemudian kondisi jalan kembali rusak. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar — apakah kerusakan jalan semata-mata akibat beban berat kendaraan seperti truk ODOL, atau ada sebab lain yang lebih mendasar? Sejumlah pakar teknik sipil menegaskan, akar masalah jauh lebih dalam: berasal dari kualitas konstruksi, material, dan perencanaan sejak awal.

Seorang dosen teknik sipil mengungkap bahwa ketika sebuah jalan baru dibenahi namun dalam hitungan bulan sudah retak atau bolong — maka sulit untuk menyalahkan muatan kendaraan sebagai aktor utamanya. “Jika kualitas pekerjaan dan material tidak sesuai, maka kerusakan muncul cepat — tidak menunggu beban berat lewat,” ujarnya. Fakta ini menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, penyebab utama kerusakan adalah internal: dari cara pembangunan itu sendiri.

Salah satu aspek penting adalah kualitas material. Dalam konstruksi jalan, agregat (batu pecah) dan aspal menjadi bahan utama. Sayangnya, dalam praktik di lapangan, agregat yang seharusnya berkualitas tinggi (kelas A) kadang digantikan dengan kelas lebih rendah, entah karena pengawasan lemah atau kontraktor ingin menekan biaya. Akibatnya, daya tahan bayar atas jalan menjadi rapuh. Begitu pula ketika aspal yang digunakan dipanaskan di bawah suhu ideal, atau bahkan dicampur dengan oli bekas — teknik yang sama sekali tidak memenuhi standar. Kombinasi ini membuat “perekat” jalan gagal bekerja optimal, sehingga struktur jalan mudah rapuh dan cepat rusak.

BacaJuga

Zuli Zulkipli Tegaskan UMSK Jabar Sah, Kritik Keras Sikap Said Iqbal

Nasib Macan Tutul Jawa di Tengah Menyusutnya Hutan Pulau Jawa

Lebih jauh lagi, pengerjaan konstruksi terkadang menyalahi prosedur: pemadatan tanah dasar dan pondasi jalan tidak dilakukan sesuai spesifikasi, sehingga fondasi jalan bisa “ambles” atau bergerak ketika dilalui kendaraan. Tambahkan tekanan dari cuaca ekstrem atau kondisi tanah yang kurang stabil — dan jalan bisa langsung menunjukkan gejala kerusakan: retak, amblas, berlubang.

Meski demikian, faktor eksternal juga tidak bisa diabaikan. Beban berat kendaraan, terutama truk atau kendaraan logistik, tetap memberi kontribusi terhadap percepatan degradasi jalan. Namun, beban berat ini biasanya memberi efek kumulatif dalam jangka waktu panjang, bukan seketika setelah jalan diperbaiki. Seorang pakar teknik sipil bahkan menyebut bahwa “efek beban baru terasa setelah satu tahun lebih.” Artinya, jika jalan rusak dalam hitungan minggu atau bulan, kemungkinan besar masalah ada pada konstruksi dan bahan — bukan karena muatan kendaraan.

Di sisi lain, ada aspek penting lain yang kerap diabaikan: sistem drainase dan water management. Bila drainase buruk — misalnya saluran air tidak berfungsi, atau sistem pembuangan air hujan tidak memadai — air akan terus menggenang di permukaan atau meresap ke dalam lapisan perkerasan jalan. Lama kelamaan, kelembapan itu mengeksploitasi retakan kecil atau pori-pori di aspal, memperlebar retakan, melemahkan struktur, bahkan memicu ambles atau lubang.

Perubahan iklim, cuaca ekstrem, atau curah hujan tinggi — yang sering dialami di Indonesia — makin memperburuk kerusakan jika drainase tidak dirancang dengan baik. Di kawasan dataran rendah atau daerah dengan tanah labil, sistem drainase menjadi tulang punggung agar jalan tetap awet. Tanpa drainase memadai, jalan menjadi rentan retak, bergelombang atau rusak parah.

Baca Juga:
Jumat Berkah, Polres Serang Bagikan Nasi Kotak

Selain itu, perencanaan perkerasan jalan — termasuk jenis lapisan aspal, ketebalan pondasi, dan karakteristik tanah dasar — seharusnya disesuaikan dengan kondisi setempat. Sering terjadi, proses perencanaan hanya mengacu pada standar generik tanpa memperhatikan kondisi tanah atau intensitas lalu lintas lokal. Hasilnya: jalan yang dibangun seperti “satu ukuran untuk semua,” tanpa mempertimbangkan beban berat, drainase, atau karakter tanah.

Semua fakta ini menunjukkan bahwa penyebab kerusakan jalan di Indonesia sangat kompleks. Tidak bisa hanya menunjuk satu penyebab — seperti muatan berlebih — tanpa melihat gambaran besar. Kerusakan yang muncul cepat setelah perbaikan biasanya menandakan kegagalan di tahap konstruksi dan penggunaan material; sedangkan kerusakan jangka panjang oleh beban berat, drainase buruk, atau kombinasi berbagai faktor lain.

Menghapus stigma bahwa “jalan rusak pasti karena truk besar” menjadi langkah awal dalam memperbaiki paradigma publik. Karena kalau kita tetap menyalahkan kendaraan semata, kita melewatkan akar masalah: sistem konstruksi yang rapuh, pengawasan pelaksanaan yang lemah, dan perencanaan yang minim mempertimbangkan kondisi lokal.

Apa artinya bagi pengguna jalan — masyarakat dan pengambil kebijakan? Pertama: kualitas konstruksi dan material harus menjadi fokus utama dalam pembangunan jalan. Tidak cukup hanya memperlebar anggaran atau menambah lapisan aspal — harus ada kejelasan pengawasan, standar mutu yang konsisten, dan penerapan teknik konstruksi yang benar.

Kedua: sistem drainase dan pengelolaan air hujan harus dirancang sejak tahap perencanaan; memastikan bahwa struktur jalan aman terhadap genangan, penyerap air, dan tekanan lingkungan.

Ketiga: pemantauan dan pemeliharaan jalan secara rutin — tidak hanya ketika sudah parah — agar retakan kecil atau noda air tidak berkembang menjadi lubang besar atau ambles.

Tanpa langkah-langkah itu, jalan di Indonesia akan terus berada dalam siklus “perbaiki–rusak–perbaiki lagi”. Warga akan terus berulang kali melihat lubang di jalan, menyesal di aspal hancur, ban pecah atau suspensi rusak, kemacetan semakin parah, bahkan kecelakaan — semua efek buruk dari struktur jalan yang tidak dirancang dan dikerjakan dengan benar.

Baca Juga:
Libur Sekolah Ramaikan Penyeberangan! ASDP Jual 558 Ribu Tiket Diskon!

Memahami hal ini berarti menyadari bahwa perbaikan jalan sejatinya bukan hanya soal menambal lubang atau mengaspal ulang. Ini soal membangun pondasi tepat, memilih material sesuai spesifikasi, memastikan pekerja dan pengawasannya kompeten, serta memasang sistem drainase dan perawatan berkelanjutan. Hanya dengan pendekatan holistik dan profesional seperti itu, harapan jalan yang awet dan selamat dari kerusakan cepat bisa terwujud — untuk kenyamanan, keselamatan, dan investasi jangka panjang bagi rakyat banyak.

Tags: #jalanindonesia#penyebab#rusak
Previous Post

Dua Wilayah Dipilih, Indonesia Masuki Era Nuklir Mulai 2032

Next Post

Air Laut Diprediksi Naik, Banten Bersiap Hadapi Rob dalam Beberapa Hari ke Depan

Related Posts

Zuli Zulkipli Tegaskan UMSK Jabar Sah, Kritik Keras Sikap Said Iqbal
Opini

Zuli Zulkipli Tegaskan UMSK Jabar Sah, Kritik Keras Sikap Said Iqbal

by Yustinus Agus
03/01/2026
0

JAKARTA - Polemik penetapan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) di Jawa Barat kembali mengemuka setelah pernyataan Presiden Partai Buruh Said...

Read more
Nasib Macan Tutul Jawa di Tengah Menyusutnya Hutan Pulau Jawa

Nasib Macan Tutul Jawa di Tengah Menyusutnya Hutan Pulau Jawa

02/01/2026
Pesona Pantai Pandawa: Dari Tebing Kapur Hingga Sunset Menawan, Wisatawan Melimpah

Pesona Pantai Pandawa: Dari Tebing Kapur Hingga Sunset Menawan, Wisatawan Melimpah

26/12/2025
Dari Kecantikan hingga Digital Marketing, MY ACADEMY Berdayakan Ibu-Ibu Pelaku Usaha

Dari Kecantikan hingga Digital Marketing, MY ACADEMY Berdayakan Ibu-Ibu Pelaku Usaha

24/12/2025
UNESCO Akui Tempe, Fadli Zon Sebut Penghargaan untuk Budaya Nusantara

UNESCO Akui Tempe, Fadli Zon Sebut Penghargaan untuk Budaya Nusantara

22/12/2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MatasNews.id

Menjadi salah satu media profesional dalam menyajikan fakta dan turut menangkal hoaks serta sebagai kontrol sosial sesuai dengan amanat Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

BERITA TERBARU

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

Pemkab Serang Terima Peserta SSDN Lemhannas RI, Bahas Strategi Ketahanan Pangan

10/03/2026
TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

TNI AD Resmikan Jembatan Garuda di Kampung Mayak Baros, Permudah Akses Warga ke Pasar

09/03/2026
Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

Pemkab Serang Gerak Cepat Bersihkan Tumpukan Sampah di Kali Tirtayasa, Warga Apresiasi

05/03/2026
Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

Bupati Serang Tutup Pesantren Ramadan Ramah Anak, Dorong Pembentukan Generasi Berkarakter Sejak Dini

05/03/2026
Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

Kejari Serang Geledah BPN Kota Serang, Sita Uang Rp228 Juta dan 20 Handphone

04/03/2026
Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

Ratusan Warga Bojonegara Padati Bazar Ramadhan Pemkab Serang, Harga Sembako di Bawah Pasaran

03/03/2026
HUT Satpol PP

HUT Satpol PP

03/03/2026
Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Ramadan Bahagia 1447 H, Bupati Serang Ajak Warga Terapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan

26/02/2026

KATEGORI UTAMA

  • Adventorial
  • Daerah
  • International
  • Nasional
  • News
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Uncategorized

Berita Terbaru

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

Oknum Humas Polda Banten Diduga Kirim Pesan Tak Pantas kepada Wartawati

15/03/2026
Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

Perkuat Solidaritas, 234 SC Banten dan Srikandi PP Banten Turun ke Jalan Bagikan Takjil

14/03/2026
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id

No Result
View All Result
  • Disclaimer
  • Home
  • Kode Etik
  • Kontak
  • Pedoman Pemberitaan
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright © 2023 www.matasnews.id