JAKARTA – Perempuan bernama asli Paryatin, yang selama ini dikenal publik sebagai Dewi Astutik, ternyata menjalani kehidupan yang jauh dari gambaran sebagai pemimpin sindikat sebelum akhirnya namanya muncul sebagai buronan lintas negara. Menurut penuturan Kepala Dusun di kampung halamannya, Paryatin dulunya hanya seorang pedagang keliling yang hidup sederhana. Kini, setelah aparat mengungkap kasus berskala besar, kisah hidupnya berubah drastis di mata warga desanya.
Warga Dusun Tenun, Desa Broto, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, mengenal Paryatin sebagai sosok yang sangat biasa. Tidak ada yang menunjukkan bahwa ia akan terlibat dalam kejahatan internasional. Kepala Dusun setempat, Didik Harirawan, mengingat bahwa selama bertahun-tahun warga hanya mengenalnya sebagai “Paryatin” dan bukan sebagai nama yang kini ramai diberitakan. Ia masih ingat perubahan fisik dan aktivitas Paryatin.
Ia mengatakan bahwa ketika masih tinggal di kampung wajahnya sama, hanya saja sekarang tubuhnya terlihat lebih berisi. Didik terakhir bertemu Paryatin pada tahun 2023 ketika ia pulang untuk mengurus sertifikat tanah.
Dalam kesehariannya sebelum meninggalkan kampung, Didik menjelaskan bahwa Paryatin pernah berjualan keliling di berbagai acara tontonan rakyat. Aktivitas itu bukan usaha besar, melainkan hanya cara sederhana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebelum menikah, ia juga sudah pernah menjadi pekerja migran di luar negeri. Setelah menikah, ia kembali merantau sekitar dua tahun kemudian.
Pada tahun 2023, ketika ia pulang ke desa untuk mengurus dokumen, ia bersama suaminya sempat membuka usaha kecil berupa penjualan nasi bungkus dan minuman di rumah. Namun usaha itu hanya berjalan sekitar tujuh bulan. Setelah itu, suaminya yang melanjutkannya, sedangkan Paryatin bekerja lagi ke luar negeri sebagai tenaga kerja wanita.
Didik menambahkan bahwa kondisi ekonomi keluarga Paryatin tampak biasa saja. Mereka tidak hidup berlebih, tetapi juga tidak terlihat kekurangan. Ia memang pernah membeli tanah milik saudaranya ketika bekerja di luar negeri, namun itu tidak pernah membuat keluarganya menjadi pusat perhatian di desa. Meski demikian, orang tua dan keluarga dekat mengakui bahwa Paryatin cukup dermawan. Jika ada anggota keluarga yang meminta dibelikan baju atau perhiasan, ia biasanya menuruti permintaan itu. Menurut Didik, sikap itu membuat keluarganya merasa bahwa Paryatin hanya bekerja keras sebagai TKW.
Segala persepsi itu berubah ketika nama “Dewi Astutik” mencuat dan menghebohkan kampung kecil tersebut. Ternyata, Paryatin menggunakan nama lain ketika beraktivitas di luar negeri. Banyak dokumen atas nama “Dewi Astutik” mencantumkan alamat di kampung mereka, tetapi warga mengaku tidak pernah mengenal seseorang dengan nama tersebut.
Kondisi serupa juga terjadi di kampung lain yang pernah ditinggali Paryatin, yaitu Dusun Sumber Agung di Kecamatan Balong. Kepala Dusun di sana, Gunawan, mengatakan bahwa tidak ada warga dengan nama Dewi Astutik. Meski alamatnya cocok, nama itu dianggap tidak pernah dikenal warga. Banyak yang menduga bahwa identitas yang dipakai Paryatin sebenarnya adalah nama palsu.
Baca Juga:
Dialog 7 Kementerian dan Warga Desa Talaga: Mencari Solusi Bersama
Beberapa tetangga juga menyampaikan bahwa Paryatin kerap mengubah gaya rambut dan penampilannya. Rambutnya pernah terlihat pendek, kemudian berubah lagi pada waktu lain. Kebiasaan tersebut kini dianggap sebagai upaya untuk menyamarkan identitasnya agar tidak mudah dikenali.
Jejak hidup Paryatin sebagai pekerja migran cukup panjang. Ia pernah bekerja di Taiwan, Hong Kong, dan terakhir sering disebut berada di Kamboja. Dari negara terakhir inilah kabar keterlibatannya dalam jaringan penyelundupan narkoba internasional mulai terdengar. Pada titik itu, perjalanan hidup Paryatin berubah dari seorang TKW menjadi figur yang disebut-sebut terlibat dalam sindikat narkoba berskala besar.
Sebagai buronan internasional, Dewi atau Paryatin diduga menjadi salah satu otak penyelundupan sabu seberat dua ton dengan nilai mencapai lima triliun rupiah. Kasus ini menjadi perhatian nasional dan membuat nama serta foto dirinya tersebar luas. Hal tersebut membuat warga kampung yang mengenalnya terkejut, bahkan sebagian tidak percaya bahwa sosok sederhana yang mereka kenal bisa terlibat dalam kasus sebesar itu.
Penangkapan terhadap Dewi akhirnya dilakukan oleh aparat Badan Narkotika Nasional yang bekerja sama dengan Interpol serta Badan Intelijen dan Keamanan Strategis. Ia ditangkap di Kamboja pada 1 Desember 2025 setelah Red Notice dikeluarkan. Penangkapan ini mengakhiri masa pelariannya yang berlangsung cukup lama dan melibatkan beberapa negara.
Keluarga Paryatin di Ponorogo juga tidak kalah terkejut. Suaminya, Sarno, mengaku selama ini ia percaya bahwa istrinya bekerja sebagai asisten rumah tangga di luar negeri. Ia tidak pernah menduga istrinya terlibat dalam jaringan narkoba internasional. Ketika melihat foto istrinya di media, ia mengaku sangat terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Keluarga kini hanya bisa pasrah dan menerima kenyataan pahit ini.
Pengungkapan kasus ini menjadi pukulan besar bagi warga Ponorogo, terutama mereka yang mengenal Paryatin sejak kecil. Sosok yang dahulu dianggap perempuan biasa yang hidup sederhana ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak diketahui siapa pun. Banyak warga mengatakan bahwa mereka merasa tidak percaya, namun akhirnya hanya bisa menerima bahwa kasus ini telah membuka identitas yang selama ini disembunyikan.
Kasus Paryatin juga membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai risiko yang dihadapi para pekerja migran, termasuk kemungkinan dimanfaatkan oleh sindikat kriminal internasional. Fenomena penggunaan identitas palsu dan perpindahan negara dianggap sebagai celah yang bisa dimanfaatkan jaringan kejahatan. Hal ini menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat tentang pentingnya pengawasan, edukasi, dan perlindungan bagi mereka yang bekerja di luar negeri.
Baca Juga:
HKGB ke-73: Bhayangkari Polresta Tangerang Tebar Kebaikan Bersama Kapolresta di Balaraja
Kini setelah penangkapan itu terjadi, masyarakat berharap proses hukum dapat berjalan secara adil. Kisah Paryatin menjadi contoh bahwa kehidupan seseorang bisa berubah secara ekstrem. Dari seorang pedagang keliling menjadi buronan internasional, perjalanan hidupnya menjadi pelajaran pahit bagi banyak orang tentang betapa rumitnya realitas di balik identitas seseorang.
















