JAKARTA – Pengelola program makan bergizi yang biasa menyuplai pangan untuk pelajar terpaksa membuat keputusan cepat — dapur milik program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini dialihfungsikan menjadi dapur umum darurat untuk membantu warga yang terdampak banjir besar di wilayah Sumatera Utara. Awalnya dapur MBG didirikan untuk menyiapkan makanan sehat bagi murid-murid sekolah, namun karena sebagian besar sekolah harus diliburkan akibat bencana, maka seluruh stok dan fasilitas itu diarahkan untuk merespon krisis — membantu keluarga dan komunitas yang terdampak banjir.
Koordinator regional BGN Sumut, KR Agung Kurniawan, menyampaikan bahwa langkah ini diambil atas dasar kemanusiaan dan urgensi. “Karena bencana banjir, sekolah-sekolah penerima manfaat MBG diliburkan — maka penerima manfaat dialihkan kepada masyarakat terdampak,” ujarnya.
Seluruh jaringan SPPG yang tersebar di banyak kabupaten dan kota di Sumut turun tangan: dari dapur hingga distribusi makanan. Di Kota Medan saja, ada 48 SPPG yang aktif — dan melalui mereka telah tersalurkan sekitar 55.000 paket makanan. Di tempat lain seperti Padangsidimpuan 4 SPPG memberikan 10.000 paket makanan, di Tebing Tinggi 13 SPPG mendistribusikan sekitar 45.000 paket, sementara di Tapanuli Utara sebanyak 5 SPPG menyalurkan 9.000 paket.
Di wilayah lain pun distribusi terus berjalan. Kabupaten Serdang Bedagai melalui 28 SPPG memberikan 12.000 paket, Kabupaten Langkat — dengan 11 SPPG — 32.000 paket, dan Sibolga dengan 3 SPPG memberikan 7.000 paket makanan. Komponen bantuan tak hanya makanan siap santap: di sebagian area, bantuan disalurkan dalam bentuk makanan kering maupun basah — misalnya di Kabupaten Mandailing Natal yang memanfaatkan 10 SPPG untuk mengirim 13.000 paket makanan.
Paling besar distribusinya datang dari Kabupaten Deli Serdang — 54 SPPG di sana menyiapkan 100.000 porsi bantuan makanan. Dengan demikian, total dari 179 SPPG yang tersebar di 10 kabupaten/kota terdampak banjir telah menyalurkan sekitar 290.000 porsi makanan.
Tugas ini dijalankan tidak hanya oleh petugas dapur: seluruh korwil (koordinator wilayah) SPPG serta relawan dari Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) ikut langsung berada di garda terdepan — mendistribusikan paket makanan dari dapur umum hingga titik-titik pengungsian serta lokasi warga terdampak.
Baca Juga:
Cabuli Gadis dibawah Umur, Satu Tersangka Diamankan Satreskrim Polres Serang
Namun upaya ini tidak tanpa tantangan. Di tengah krisis banjir, banyak akses ke area terdampak terputus. Bahan baku sulit dijangkau, listrik dan jaringan internet sering padam, membuat proses produksi dan distribusi makanan menjadi lebih rumit. Bahkan di wilayah kepulauan seperti Kepulauan Nias, beberapa SPPG terpaksa menghentikan operasi — penyebabnya, pelabuhan utama ditutup akibat cuaca buruk.
Menariknya, meskipun operasional dapur MBG pada hari libur pada dasarnya belum pernah direncanakan, situasi darurat memaksa agar mereka tetap aktif bekerja pada Sabtu dan Minggu. Kapasitas dapur dan tim pun ditambah agar bisa menjangkau lebih banyak titik terdampak, sesuai instruksi pimpinan BGN.
Pada akhirnya, pengalihan fungsi dapur MBG menjadi dapur umum ini menjadi bukti bahwa program pangan dan gizi bisa lebih fleksibel saat bencana — bukan hanya untuk mendukung sekolah, tapi juga melindungi dan menyejahterakan masyarakat luas dalam situasi genting. Ribuan keluarga yang kehilangan akses pangan akibat banjir mendadak bisa mendapat bantuan cepat; anak-anak dan orang dewasa yang terlantar pun menerima asupan mendasar di tengah krisis.
Langkah cepat dan responsif ini mendapat apresiasi dari warga dan relawan di lapangan. Di tengah kepanikan dan kesulitan, keberadaan dapur umum darurat menghadirkan secercah harapan: keberlanjutan pangan, rasa aman, dan solidaritas saat bencana melanda.
Masih panjang tantangan yang harus dihadapi — distribusi logistik, akses kawasan, ketersediaan bahan baku — namun upaya kolektif antara SPPG, SPPI, dan komunitas lokal menunjukkan bahwa dalam situasi sulit, koordinasi dan kemanusiaan bisa menghasilkan dampak nyata.
Baca Juga:
Indonesia Bidik Pusat Tekstil Global: Investasi, Inovasi, dan Daya Saing Jadi Kunci
Ketika banjir menenggelamkan rumah dan mengganggu aktivitas sehari-hari, dapur umum itu berdiri sebagai simbol ketahanan masyarakat: bahwa dalam krisis, rasa kebersamaan dan tanggung jawab bersama tetap bisa menghangatkan, memberi makan, dan memberi semangat.












