JAKARTA – Aksi demonstrasi memperingati satu tahun tragedi unjuk rasa berdarah di Kenya kembali menelan korban jiwa. Sebanyak 30 orang dilaporkan tewas dalam demonstrasi anti-pemerintah pada Rabu (25/6/2025), sebagian besar akibat tembakan aparat keamanan.
Direktur Eksekutif Amnesty Kenya, Irungu Houghton, menyatakan kepada Reuters, “Sebanyak 30 korban telah terverifikasi meninggal dunia per pukul 08.30 malam. Sebagian besar dibunuh oleh polisi,” tambahnya, mengatakan sedikitnya lima korban tewas akibat luka tembak.
Ribuan warga Kenya turun ke jalan di berbagai kota, termasuk Nairobi, untuk memprotes tindakan brutal aparat keamanan dan mengenang demonstrasi tahun lalu yang menewaskan lebih dari 60 orang. Laporan media lokal dan saksi mata menyebutkan polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan demonstran. Bentrokan pun terjadi di sejumlah titik, termasuk sekitar Gedung Negara, kediaman Presiden William Ruto.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya (KNCHR) mencatat delapan kematian dan lebih dari 400 luka-luka, termasuk demonstran, jurnalis, dan petugas keamanan. KNCHR menyatakan dalam akun X resminya, “Telah terjadi penggunaan kekuatan berlebihan, termasuk peluru karet, peluru tajam, dan meriam air, yang mengakibatkan banyak korban luka.”
Baca Juga:
Indonesia Geser Vietnam, Kokoh di Peringkat Kedua SEA Games 2025
Juru bicara kepolisian Kenya, Muchiri Nyaga, menolak berkomentar. Sementara itu, Otoritas Pengawas Independen Kepolisian (IPOA) menyatakan sedikitnya 61 orang ditangkap.
Sebuah sumber dari Rumah Sakit Nasional Kenyatta (KNH) di Nairobi melaporkan telah menerima 107 pasien luka-luka, sebagian besar dengan luka tembak—baik dari peluru karet maupun peluru tajam. Sumber tersebut menambahkan tidak ada kematian yang dilaporkan di rumah sakit tersebut. Sayangnya, Kenya Power melaporkan satu petugas keamanannya tewas ditembak saat berpatroli.
Siaran langsung dua stasiun televisi nasional, NTV dan KTN, sempat dihentikan setelah meliput aksi massa mendekati Gedung Negara. Meskipun Otoritas Komunikasi Kenya memerintahkan penghentian siaran, pengadilan di Nairobi mencabut perintah tersebut.
Bentrokan juga terjadi di Mombasa dan beberapa kota lainnya seperti Kitengela, Kisii, Matuu, dan Nyeri. Meskipun Presiden Ruto telah membatalkan kenaikan pajak yang memicu protes tahun lalu, ketidakpuasan masyarakat masih membara, diperparah oleh kematian tragis blogger dan guru Albert Ojwang (31) dalam tahanan polisi. Enam orang, termasuk tiga polisi, didakwa atas pembunuhan Ojwang dan mengaku tidak bersalah.
Baca Juga:
HUT Bhayangkara: Polda NTT Berbagi Air Bersih
Kematian Ojwang menjadi simbol kemarahan publik atas hilangnya puluhan warga secara misterius dan dugaan penyiksaan dalam tahanan. Seorang demonstran, Lumumba Harmony, mengatakan kepada Reuters, “Saya turun ke jalan untuk memperjuangkan hak teman-teman muda kami, warga Kenya, dan semua orang yang tewas kami menuntut keadilan.”
















