JAKARTA – University of Amsterdam (UoA) menolak perpanjangan Letter of Acceptance (LoA) S3 hingga 2026. Alasannya bukan kelalaian administratif, melainkan kebijakan UoA dan kampus lain di Belanda yang menghentikan sementara penerimaan mahasiswa PhD berbeasiswa luar negeri yang tidak memenuhi standar minimum biaya hidup (1.700 euro/bulan). Beasiswa LPDP hanya memberikan 1.500 euro/bulan.
“Masalah ini bukan hanya soal dua ratus euro,” ungkap sumber. Universitas di Belanda bertanggung jawab atas kesejahteraan mahasiswa doktoral. Namun, pemangkasan anggaran pemerintah Belanda membuat universitas tak mampu lagi menanggung kekurangan dana. Terjadi pengurangan anggaran higher education and research sebesar 1,2 miliar euro pada April 2025, dan asosiasi perguruan tinggi Belanda (UNL) mengajukan banding ke pengadilan.
Terungkap bahwa living allowance LPDP selama ini kurang memadai dan telah lama menjadi perbincangan, seperti cuitan viral Angga Fauzan pada Februari 2025 yang menyebutnya “udah kayak penerima BLT”. Masalah ini bukan soal rasa syukur, melainkan keberlangsungan studi, kesehatan mental, dan kelayakan hidup.
Baca Juga:
Kapolda Banten Cup 2025: Semangat Kemerdekaan Bergelora di Lapangan Tenis!
Disarankan evaluasi strategi pendanaan LPDP, khususnya pemilihan kampus tujuan. UoA, yang berada di peringkat 53 dunia versi QS World University Rankings 2025, tidak lagi dapat menjadi mitra LPDP karena skema pendanaannya dianggap tidak memadai. Kasus serupa terjadi di Finlandia.
Sistem di negara Anglo-Saxon (biaya kuliah tinggi) dibandingkan dengan negara Eropa Kontinental (biaya kuliah rendah atau gratis). Disarankan agar LPDP bermitra dengan kampus-kampus di Eropa Kontinental untuk mengoptimalkan anggaran. “Biaya kuliah satu tahun di Inggris bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan hidup mahasiswa S3 selama satu hingga satu setengah tahun di Belanda atau Jerman,” jelas sumber.
Baca Juga:
Tim Sepak Bola Banten Mengguncang Popnas 2025: Dominasi Tak Terbantahkan di Grup C!
LPDP perlu mengubah fokus pendanaan dari subsidi biaya kuliah ke peningkatan kualitas hidup mahasiswa, terutama di negara yang tidak mengenakan biaya kuliah. Dengan demikian, mahasiswa tidak terbebani secara ekonomi, universitas lebih terbuka, dan LPDP membangun reputasi yang baik. “Jika ingin lebih banyak anak bangsa menempuh pendidikan berkualitas…maka sudah waktunya kita memikirkan ulang…arah dan orientasi strategis LPDP secara keseluruhan,” ungkap sumber.
















