LEBAK – Di sebuah pelosok desa di Kabupaten Lebak, Banten, tersembunyi sebuah kisah pilu yang menyayat hati. Saniti dan Juned, pasangan suami istri lanjut usia, telah menghabiskan dua dekade hidup dalam gubuk reyot yang nyaris ambruk. Mereka berdua, bersama dua anak mereka, berjuang untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan dan ketidakpastian.
Gubuk mereka lebih pantas disebut sebagai gubuk rapuh daripada rumah layak huni. Atapnya bocor di sana-sini, dindingnya lapuk dimakan usia, dan tiang penyangga yang keropos hanya ditopang oleh kayu seadanya.
Setiap hari, keluarga ini hidup dalam bayang-bayang kecemasan, takut sewaktu-waktu reruntuhan gubuk itu akan menimpa mereka.
“Kalau hujan atau angin kencang, kami harus mengungsi ke rumah tetangga atau rumah RT. Takut ketimpa reruntuhan, Pak,” ujar Saniti dengan suara bergetar, berusaha menahan tangis.
Bagi Saniti, hidup di rumah yang tak layak huni bukan hanya menimbulkan rasa takut, tetapi juga menyisakan luka batin yang mendalam.
“Sedih, Pak. Sedih sekali. Rasanya hati hancur, tapi mau bagaimana lagi,” ucapnya sambil menyeka air mata yang mulai membasahi pipinya.
Penderitaan mereka semakin bertambah karena sang suami, Juned, sudah lama tidak bisa bekerja akibat sakit dan usia yang semakin menua.
Sementara Saniti hanya sesekali bekerja sebagai buruh tani dengan upah yang sangat minim. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari pun, mereka seringkali harus berjuang keras.
“Saya cuma kuli ke sawah, nandur, ngoyos, ngegebot punya orang. Kalau suami sudah enggak kerja apa-apa, sedih, Pak,” ujarnya dengan nada penuh kepedihan.
Ironisnya, meski sudah berkali-kali mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah ke pemerintah, hingga kini harapan itu belum juga terwujud.
Baca Juga:
Gemilang! Kontingen Banten Ukir Prestasi di Popnas 2025: Posisi 5 Besar Diraih!
Saniti bahkan mengaku sempat dimintai sejumlah uang saat mengurus berkas permohonan.
“Cuma difoto-foto doang, Pak. Pernah dimintai Rp 50 ribu, pernah juga Rp 30 ribu buat persyaratan. Padahal kami tidak punya uang,” katanya dengan nada getir.
Satu-satunya bantuan yang pernah mereka terima hanyalah Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) senilai Rp 400 ribu setiap tiga bulan. Jumlah tersebut jelas jauh dari cukup untuk menopang kehidupan mereka.
“Saya hanya berharap bisa hidup tenang sampai ajal menjemput, tidak lagi ketakutan kalau rumah ini roboh,” tutur Saniti dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi memprihatinkan yang dialami Saniti dan Juned juga dirasakan oleh para tetangga mereka. Salah satunya adalah Erawati (27), yang sering melihat keluarga Saniti mengungsi saat hujan deras.
“Kasihan sekali, rumahnya seperti mau roboh. Kalau hujan, mereka pasti ngungsi, kadang ke rumah saya, kadang ke tetangga lain. Kami bantu sebisa mungkin, tapi kami juga terbatas,” ujarnya.
Erawati berharap pemerintah maupun pihak dermawan segera turun tangan untuk membantu keluarga Saniti.
“Kalau dibiarkan, rumah itu bisa ambruk kapan saja. Kami semua takut terjadi hal yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Kisah Saniti dan Juned adalah potret nyata kemiskinan yang masih menghantui sejumlah daerah di Indonesia. Dua puluh tahun menunggu, permohonan bantuan rumah layak huni tak kunjung direalisasikan.
Baca Juga:
Biadab! Dua Remaja Cabuli Gadis di Bawah Umur dalam Kondisi Tak Sadar
Kini, pasangan renta itu hanya bisa berharap ada uluran tangan dari pemerintah atau masyarakat sebelum gubuk rapuh itu benar-benar merenggut nyawa mereka. Akankah harapan itu menjadi kenyataan?












